sebelum membaca tulisanku, kuperingatkan.
tulisan ini sendu, membosankan.
mengalir sebagaimana perasaanku,
yang tiba-tiba saja bermuara,
padamu.
Bulan Agustus 2017,
Aku pernah sekilas mencari,
dan menemukanmu diantara seratus jari dan seratus mata.
hanya melihat monokrom dalam layar.
dan kau kulupakan.
Bulan januari 2018,
Aku pernah sekilas mendengar,
tak mengetahui siapa pemilik suara itu.
hanya berdoa ingin dapat mendengar seperti ini,
sehari lima kali.
dan kau kulupakan.
Bulan UTS semester 2 2018,
Aku pernah sekilas bermimpi,
dan mengetahuimu dari bibir-bibir yang lain,
mempertanyakan tujuan dari yang kuimpikan.
sekali lagi, kau pun kulupakan.
Bulan UAS semester 2 2018,
Aku pernah mengagumi,
bagaimana sudut pandangmu memecahkan masalah.
kemudian kutahu kau di tengah kisah segitiga.
untuk terakhir kali, kau kulupakan.
tanpa kau tahu,
tanpa mereka tahu,
aku mengakhiri untuk membatinmu.
Tapi tiba-tiba kau menjadi gerimis.
menetes di bumiku yang gersang.
tidak, aku tidak mengharapkanmu untuk selalu datang.
aku tak ingin mendefinisikannya lebih dari yang seharusnya.
toh, kau sudah kulupakan.
Aku bukan orang yang mudah menerima,
tapi ketika kau bertanya hatiku yakin saja menjawab iya.
meski rasaku bukan api yang membuncah ruah.
semesta berbisik agar ku mendampingimu.
padahal pernah membatinmu, aku sudah melupakan.
denganmu, aku menjadi aku.
denganmu, badai terasa menenangkan.
dan kuingat tangis oleh doa-doaku.
denganmu kubuat memori baru.
karena trauma masa lalu perlahan kulupakan.
Tanpa kusadari, kau sudah menjadi hujan lebat.
kamu benar-benar jatuh di hatiku.
tanpa bisa kuhindari.
membasahi setiap jengkalnya tanpa bersisa,
meresap setiap porinya dengan rata.
ku buat hujan sendiri di pipi,
aku takut berakhir aku kau lupakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar